SUBSIDI BAHAN BAKAR MINYAK & PEREKONOMIAN INDONESIA

Subsidi atas BBM diberikan sejak tahun anggaran 1997/1978. pemberian subsidi BBM ini didasarkan pada pertimbangan bahwa BBM merupakan sumber energi yang strategis bagi penggerak roda perekonomian.  Dalam rangka peningkatan efisiensi dan efektivitas pengeluaran rutin serta berbagai pertimbangan yang lain, pemerintah secara berkala telah berencana mengupayakan pengurangan atau penurunan subsidi BBM, melalui peningkatan harga jual BBM di dalam negeri.

Rencana tersebut kemudian memunculkan pihak yang pro dan kontra. Pihak yang kontra menduga akan terjadi antrean panjang sehari sebelum diterapkan. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa gerakan tersebut tidak tepat untuk dilakukan, karena identik dengan menutup akses masyarakat untuk memperoleh BBM bersubsidi. Sementara yang pro berpendapat, gerakan tersebut bertujuan untuk mengajak masyarakat menghemat BBM bersubsidi. Kenaikan harga minyak mentah dunia dan diikuti oleh kebijakan penurunan subsidi BBM oleh pemerintah, menyebabkan kenaikan harga BBM. Kenaikan tersebut akan berdampak selanjutnya pada kenaikan harga-harga secara umum.

Pengaruh kenaikan harga minyak tersebut akan berdampak terhadap inflasi, pengangguran, dan kemiskinan. Hal ini dapat dilihat melalui ke empat mekanisme. Selain itu, dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap perekomian, khususnya pengangguran, dapat juga dijelaskan melalui 3 pendekatan yaitu :

  • classic supply shock
  • real money balance effect
  • income transfer effect

Penurunan subsidi BBM akan memberikan dampak yang dapat dilihat dari 2 jenis pendekatan yaitu :

  • Efek pengenaan subsidi : pendekatan parsial

Dilihat dari pendekatan parsial, terdapat dead weight welfare loss (DWL) kebijakan subsidi ini menimbulkan inefisiensi dalam perekonomian atau terjadi missallocation of resources. Bantuan subsidi tersebut ada yang hilang, tidak dinikmati baik oleh produsen maupun konsumen.

  • Efek pengenaan subsidi : pendekatan keseimbangan umum

Dilihat dari pendekatan keseimbangan umum,terdapat external shock yang berarti bahwa kebijakn subsidi ini menimbulkan terjadinya penurunan ekspor yang mengakibatkan produsen domestik kalah bersaing dengan produk impor gulung tikar.

Dalam siklus subsidi BBM, terdapat delapan tahapan yang pada umumnya harus dilalui oleh suatu rancangan kebijakan pengurangan subsidi BBM, yaitu :

  • keterangan pemerintah mengenai RAPBN pada sidang pleno DPR-RI
  • Pembahasan RUU APBN dengan Panitia Anggaran DPR RI, menghasilkan pengesahan UU APBN yang akan diberlakukan pada tahun berjalan
  • Konsultasi antara Pemerintah (Kemenkeu dan Kementrian ASDM) dengan Panitia Anggaran DPR RI untuk menentukan asumsi-asumsi yang khusus terkait dengan pengurangan subsidi BBM, mencakup harga minyak mentah, kurs rupiah terhadap US$, volume pemakaian BBM, dan perkiraan kenaikan rata-rata harga BBM;
  • Pengambilan keputusan (decision making) oleh Pemerintah mengenai kenaikan harga BBM sebagai hasil Sidang Kabinet
  • Pengkajian dan simulasi dilakukanoleh DESDM untuk menentukan skenario kenaikan harga BBM dan pengaturan tata niaga baru BBM
  • Konsultasi Pemerintah dengan Komisi VIII dan pelaksaaan sosialisasi BBM dengan berbagai media dan metodologi
  • Pengambilan keputusan dan pengumuman KEPRES mengenai kenaikan harga baru eceran BBM
  • Implementasi kenaikan harga BBM baru oleh Pertamina

Produksi BBM untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri selama ini diproduksi oleh 9 kilang minyak milik Pertamina. Kilang-kilang minyak tersebut berlokasi di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Secara keseluruhan perkembangan produksi BBM kecenderungan mengalami penurunan produksi. tingginya konsumsi BBM di dalam negeri belum mampu diimbangi dengan produksi BBM, untuk itu indonesia masih mengimpor terutama untuk jenis avtur, migas, minyak diesel dan solar. Besarnya impor sangat tergantung kebutuhan konsumsi dan produksi BMM domestik.

Konsumsi atau penjualan domestik dipengaruhi oleh aktivitas atau kebutuhan konsumen BBM yaitu sektor transportasi, sektor industri pengolahan, sektor rumah tangga, dan sektor listrik.

Secara umum penurunan pengeluaran subsidi BBM serta TDL memberikan dampak yang negatif terhadap perokonomian secara makro, diantaranya :

  • daya beli riil produsen dan rumah tangga juga menurun, ceteris paribus.
  • penurunan ekspor agregat
  • penurunan impor agregat
  • menurunkan PDB riil
  • penurunan employment
  • kenaikan inflasi
  • penurunan kesejahteraan masyarakat
  • penurunan daya saing produk-produk ekspor Indonesia
  • penurunan trasfer agregat dalam jangka panjang maupun pendek

Subsidi BBM seringkali juga tidak tepat sasaran. Faktanya, yang menerima subsidi justru dari RT yang berpendidikan dan bukan dari kalangan miskin. Dana yang merupakan hasil dari pengurangan dana subsidi BBM dialokasikan oleh pemerintah kepada masyarakat untuk pengentasan kemiskinan dan usaha produktif skala kecil. Mengacu pada hasil riset untuk kasus di dalam negeri maupun kasus luar negeri maka dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi memang relatif kecil. untuk riset dengan menggunakan pengujian statistik maka pengaruh kenaikan harga tersebut terhadap inflasi dapat dikatakan tidak signifikan.

 Untuk mengendalikan inflasi maka peran dari Bank Sentral sangat penting terutama Bank Indonesia. Bank Indonesia perlu melakukan intervensi di pasar uang dan menurunkan JUB. Dengan stabilnya nilai tukar rupiah maka laju inflasi relatif terkendali. Penurunan subsidi BBM yang berpengaruh langsung pada sektor transportasi dan sektor industri, pada akhirnya juga akan berdampak pada sektor-sektor lain dalam perekonomian.

Penurunan subsidi BBM memiliki pengaruh terhadap sektoral dan regional. Dampak terhadap kinerja sektoral dalam jangka pendek maupun panjang akan mempengaruhi :

  • nilai tambah
  • harga domestik
  • harga energi rata-rata
  • employment

Dampak terhadap kinerja regional memperlihatkan trend yang negatif baik dalam jangka pendek maupun panjang. hal ini akan mempengaruhi :

  • output agregat
  • nilai tambah
  • employment

Kenaikan harga BBM bersubsidi akan menyebabkan terjadinya efek spiral yaitu mendorong kenaikan harga barang-barang dan jasa-jasa yang dihasilkan olehh sektor-sektor dalam perekonomian atau disebut terjadinya fenomena cost push inflation.  kenaikan BBM menyebabkan penurunan employment. penurunan employment dapat diartikan meningkatnya pengangguran. Dampak penurunan subsidi membawa dampak pada penurunan kesejahteraan masyarakat baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. kenaikan harga BBM tentu akan menyebabkan masyarakat harus membayar lebih mahal dari produk BBM atau produk-produk lain yang menggunakan input BBM, termasuk sekto transportasi. dari aspek pemerataan, kenaikan harga BBM juga menyebabkan penurunan transfer agregat ke pelaku ekonomi dalam jangka pendek.untuk mengurangi dampak negatif kenaikan harga BBM, maka program kompensasi tetap harus dilakukan. pelaksanaan program kompensasi harus dipersiapkan dengan lebih baik, termasuk perbaikan basis data rumah tangga miskin.

Kenaikan harga BBM ternyata tidak selamanya negatif, adapun sisi positif dari kenaikan harga BBM ini yaitu peningkatan kualitas lingkungan dalam jangka pendek. kenaikan harga BBM akan meningkatkan kualitas lingkungan karena output stressor atau emisi yang dihasilkan oleh aktivitas ekonomi mengalami penurunan, meskipun relatif sangat kecil.

Untuk memperbaiki kualitas udara, maka perlu dilakukan pengembangan energi atau bahan bakar yang relatif ramah terhadap lingkungan. pemerintah juga perlu mengupayakan penurunan pencemaran udara dari kendaraan bermotor yang lebih ketat, dan meningkatkan kualitas bahan bakar yang lebih baik.

Dapat disimpulkan bahwa penurunan subsidi BBM menyebabkan dampak negatif terhadap ekonomi makro, namun di sisi lain juga membawa dampak positif seperti menyebabkan peningkatan kualitas lingkungan.Kebijakan subsidi tidak dapat diberlakukan secara terus menerus. Di samping itu, jika subsidi harus diberikan maka harus diberlakukan secara adil, selektif dan tepat sasaran dengan jangka waktu yang terbatas. Tingkat subsidi yang diberikan harus secara bertahap (gradual) dikurangi sehingga sampai jangka waktu tertentu subsidi dapat dihilangkan sama sekali. Penurunan atau pengurangan subsidi pada awal dikenakan terbesar pada jenis BBM yang relatif sedikit dikonsumsi oleh masyarakat dan produsen. Kemudian secara bertahap dan gradual pengurangan subsidi dilakukan kepada jenis BBM lainnya.

Prinsip subsidi silang atas produk-produk BBM yang selama ini diterapkan harus tetap dilakukan dengan perhitungan yang lebih cermat dan realistis. Penurunan / pengurangan subsidi BBM secara bertahap juga mendukung upaya konservasi energi, karena BBM termasuk sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). Sejalan dengan hal tersebut, maka diperlukan program sosialisasi yang dilakukan secara transparan dan berkesinambungan. Dengan program tersebut diharapkan konsumen BBM dapat memahami kebijakan tersebut dan kemudian menjadi konsumen yang rasional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s